Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam. Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu. Hanya akulah yang kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi. Tak akan ada siapa pun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti!
Itulah kutipan dalam A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini, sang penulis The Kite Runner. Kalimat itu sering kali diucapkan sang ibu setiap kali Mariam bersikeras ingin berjumpa dengan Jalil, ayah yang tak pernah secara sah mengakuinya sebagai anak. Dan kenekatan Mariam harus dibayarnya dengan sangat mahal. Sepulang menemui Jalil secara diam-diam, Mariam menemukan ibunya tewas gantung diri.
Sontak kehidupan Mariam pun berubah. Sendiri kini dia menapaki hidup. Mengais-ngais cinta di tengah kepahitan sebagai anak haram. Pasrah akan pernikahan yang dipaksakan, menanggung perihnya luka yang disayatkan sang suami. Namun dalam kehampaan dan pudarnya asa, seribu mentari surga muncul di hadapannya.
***
“Emosi terpendam, kekuatan cinta, keindahan, keterlarangan, dan kesabaran tanpa batas, semua ditampilkan Khaled Hosseini dalam A Thousand Splendid Suns.” - O, the Oprah Magazine
“A Thousand Splendid Suns berisikan cerita memilukan tentang dua perempuan Afghan dalam mempertahankan hidup dengan segenap kekuatan mereka.” - Booklist
”Inspirasional, menyentuh hati … A Thousand Splendid Suns menuturkan secara dalam tentang pencarian dan pengorbanan cinta.
-Family Circle
Cuma satu yang terlintas dari benak gw ketika selesai menamtkan buku ini : "Gw bersyukur banget tidak terlahir sebagai perempuan Afghanistan!"
Buku ini berkisah tentang kehidupan dua orang perempuan Afghanistan dengan latar belakang dan usia yang jauh berbeda. Miriam seornag 'harami' -anak haram yang sepanjang hidupnya tidak mengenal cinta. Menderita sampai akhir hayat. Siapa sangka dalam satu kepingan hidup Miriam bertemu dengan Laila yang menjadi istri kedua suaminya.
Kepedihan hati istri pertama yang dimadu oleh suami yang sepanjang pernikahan memperlakukannya dengan sangat buruk dituturkan dengan apik oleh Khaled Hosseini dan membuat pembaca ikut merasakan apa yang dirasakan Miriam.
Setelah sekian lama, akhirnya Miriam mulai berdamai dengan Laila, mereka akrab selayaknya sahabat karib yang mempunyai 'musuh' bersama yaitu suami mereka sendiri Rasheed yang memperlakukan mereka berdua dengan sangat kejam.
Tahun berganti, situasi politik di Afghanistan juga semakin tidak menentu apalgi ketika rezim Thaliban berkuasa. Menjadi perempuan di Afghanistan seolah 'bencana besar' segala peraturan sangat tidak manusiawi terlebih-lebih bagi prempuan. Nyawa juga gak berharga disini.
Perjuangan Miriam dan Laila lari dari Rasheed begitu menegangkan. Tapi usaha mereka gagal. Singkat cerita, karena kemarahan yang meuncak mengetahui Laila bertemu dengan cinta pertamanya membuat Rasheed ingin membunuh Laila tapi Miriam membela Laila dan membunuh Rasheed.
Demi Laila dan kedua anaknya Miriam rela bertanggung jawab atas kematian Rasheed. Setelah puluhan tahun hidup didunia Miriam baru merasakan indahnya dicintai dan mencintai setelah bertemu Laila dan dia rela mengakhiri hidupnya di tiang gantungan.
Tragis..miris..dan bikin gw ga sanggup mebayangkan seandainya gw terlahir sebagai perempuan Afghanistan dibawah rezim thaliban.
*high recomended*
|
Comments